Kenapa Dekorasi Imlek Identik dengan Warna Merah?

Setiap perayaan Tahun Baru Imlek, warna merah hampir selalu mendominasi berbagai dekorasi.
Mulai dari lampion, hiasan pintu, hingga amplop angpao, semuanya identik dengan warna cerah tersebut.
Lantas, mengapa warna merah begitu lekat dengan perayaan Imlek?
Dalam budaya Tiongkok, warna merah atau hong memiliki makna yang sangat mendalam.
Warna ini bukan sekadar pilihan estetika, melainkan simbol yang berakar kuat dalam tradisi, filosofi, dan kepercayaan masyarakat China sejak ribuan tahun lalu.
Hubungan Imlek dan warna merah.
Merah dipandang sebagai warna yang melambangkan kehidupan, api, vitalitas, serta energi positif.
Dalam kepercayaan tradisional China, warna ini diyakini mampu menarik keberuntungan, kebahagiaan, dan kemakmuran.
Karena itu, saat Tahun Baru Imlek, yang menandai awal siklus kehidupan yang baru, rumah-rumah dihiasi dengan nuansa merah.
Harapannya, energi positif dari warna tersebut dapat membawa rezeki dan kebahagiaan sepanjang tahun yang akan datang.
Selain sebagai simbol keberuntungan, warna merah juga dipercaya memiliki kekuatan pelindung.
Warna ini diyakini mampu menangkal nasib buruk dan mengusir roh jahat.
Kepercayaan inilah yang membuat warna merah menjadi elemen penting dalam berbagai festival besar, terutama Imlek.
Dengan menghadirkan warna merah di rumah dan lingkungan sekitar, masyarakat berharap terhindar dari hal-hal buruk di tahun yang baru.
Legenda Nian.
Makna warna merah dalam perayaan Imlek juga tak lepas dari legenda populer tentang makhluk buas bernama Nian.
Dalam cerita rakyat Tiongkok, Nian digambarkan sebagai monster yang setiap Malam Tahun Baru keluar dari laut untuk meneror penduduk desa dan memangsa ternak maupun manusia.
Warga hidup dalam ketakutan hingga akhirnya menemukan bahwa Nian takut pada suara keras, api, dan warna merah.
Untuk mengusir makhluk tersebut, penduduk desa menempelkan kertas merah di pintu rumah, menggantung lampion merah, serta menyalakan petasan.
Cara ini dianggap berhasil, Nian pun melarikan diri.
Sejak saat itu, penggunaan warna merah menjadi tradisi dalam Festival Musim Semi atau Tahun Baru Imlek,
melambangkan perlindungan, keberanian, serta kemenangan atas kesulitan.
Penggunaan warna merah dalam perayaan Imlek pun sangat beragam, dengan masing-masing dekorasi membawa makna dan doa tersendiri.
Misalnya lampion.
Lampion merah menjadi salah satu simbol paling ikonik saat Imlek.
Hiasan ini melambangkan masa depan yang cerah, kebersamaan keluarga, dan keharmonisan.
Cahaya lampion dipercaya dapat menerangi jalan datangnya keberuntungan ke dalam rumah.
Ada pula chunlian berupa sepasang bait puisi yang ditulis dengan tinta hitam atau emas di atas kertas merah dan ditempelkan di sisi pintu.
Isinya berisi harapan akan kesehatan, rezeki, dan kemakmuran di tahun yang baru.
Dekorasi imlek lainnya adalah hiasan potongan kertas merah biasanya ditempel di jendela atau dinding.
Motifnya beragam, mulai dari kaligrafi keberuntungan,
hingga gambar hewan zodiak dan bunga, sebagai simbol doa dan berkah bagi penghuni rumah
Semoga tahun ini banyak rezeki yang datang!

Sahabat, di sekitar kita masih banyak oma opa yang hidup sebatang kara dan kesulitan tak bisa merasakan kemeriahan serta kehangatan Tahun Baru Imlek.
Mereka bertahan tanpa keluarga di samping mereka, tanpa kue keranjang, tanpa kecukupan makanan dan tanpa angpao di tangan.
Setiap tahun penuh kesunyian, opa dan oma hanya bisa berdoa dalam,
berharap setidaknya satu kali ada tahun di mana mereka dapat hidup lebih baik dari hari kemarin.
Imlek bukan hanya tentang keberuntungan dan berkah, tetapi juga tentang berderma.
Mari berderma angpao dan sembako untuk oma dan opa Tionghoa yang kurang mampu🧧.
Setiap rezeki yang kita miliki ada hak mereka yang hidup dalam kesulitan.
Semoga kebaikan ini menjadi ladang karma baik, membawa keberkahan sepanjang tahun untukmu.
❤️🌹






Leave a Reply