Kesempatan libur yang bertepatan dengan cuti saat Lebaran, anakku Kintan mengajak kami semua mengunjungi Museum Balon Udara di Kota Saga, ketika suhu cukup dingin. Dalam benak saya, seperti halnya museum pada umumnya, terlintas kesan biasa saja, sedikit gelap, sunyi, dan monoton. Apalagi… balon udara? Apa yang menariknya, ya?

Menuju museum dari Stasiun Saga, kami menggunakan bus umum. Karena saya masih dalam masa pemulihan, saya masih menggunakan kursi roda. Yang menarik, bus di Jepang sangat ramah disabilitas, ada simbol kursi roda. Saat naik ke bus, sopir akan menanyakan tujuan kami. Kemudian, sopir menyiapkan papan untuk naik dengan memiringkan bus, membantu mendorong, dan mengikat kursi roda saya di lokasi khusus disabilitas dengan memastikan semuanya aman. Luar biasa! Oh, ya, di Jepang waktu adalah hal utama. Ketepatan waktu kedatangan, baik kereta rapid, kereta biasa, maupun shinkansen, mencapai 100%. Sedangkan bus, ketepatannya mencapai 98%. Jika terlambat, maksimal hanya 4 menit, mungkin karena membantu orang disabilitas seperti saya.

Sekitar 15 menit kemudian, kami tiba di Museum Balon Udara, Saga. Berbeda dengan bayangan saya sebelumnya bahwa museum ini akan terkesan kuno dan kurang menarik, ternyata saya salah. Museum ini tidak besar, dengan area parkir yang kecil karena di Jepang sudah terbiasa menggunakan transportasi publik.



Bangunan yang minimalis, banyak kaca, serta pencahayaan yang terang dan modern mengubah citra museum menjadi lebih modern dan kontemporer. Jadi, meskipun museum ini berada di tengah kota, setiap tahun pada akhir Oktober hingga awal November diadakan acara “Saga International Balloon Fiesta” di area terbuka pinggir Sungai Kase di Kota Saga, Prefektur Saga.

Sambil membayar tiket perorangan sekitar 50 ribu rupiah, terdapat spot foto 4 dimensi yang bisa kita manfaatkan, termasuk informasi mengenai posisi terbaik untuk berfoto. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangunan di Jepang ramah disabilitas, dengan tangga menuju lantai dua dan tiga serta lift untuk disabilitas, sehingga saya merasa sangat nyaman menjelajahi museum ini.

Menonton film Balon Udara

Pernak-pernik Balon Udara

Di lantai pertama, kita disuguhkan sejarah balon udara di Jepang, dengan contoh-contoh balon udara abad ke-20 yang masih menggunakan rotan dan mesin pada masa itu, dimensi balon udara, bahan dasar balon, tali pengikat, dan lain-lain. Di berbagai ruangan, kita juga dapat menyaksikan partisipasi lebih dari 30 negara dalam festival ini, terlihat dari pin yang dibawa peserta dari berbagai prefektur di Jepang dan mancanegara yang setiap tahun memiliki tema berbeda. Yang menarik, terdapat prangko balon udara dari berbagai negara seperti Inggris, Polandia, China, Prancis, Belanda, dan lain-lain. Namun, saya tidak menemukan dari Indonesia, hahaha.

Simulator Balon Udara
Ada tempat menarik bernama simulator balon udara yang dapat dicoba oleh siapa saja, termasuk penyandang disabilitas seperti saya. Ketika kita masuk ke dalam keranjang balon udara, di depan kita terdapat visualisasi dengan titik pendaratan yang harus dicapai. Kita mengikuti instruksi untuk menarik alat, mengatur kecepatan dan arah angin, dan sebagainya. Saat mulai, rasanya seperti benar-benar naik balon udara, melewati sungai, lahan pertanian, bukit, gunung, dan lain-lain. Ketika kita mengarahkan ke lokasi pendaratan, kita mendapatkan skor. Anak saya mencoba dan hanya mendapatkan nilai E dan D. Ternyata cukup menantang, karena jika mendapatkan nilai A, kita akan diberi pin balon udara khusus dari museum.

Belajar melukis dan mewarnai balon udara.

Ada tempat yang sangat menarik, di mana pengunjung diberi kesempatan untuk mewarnai kertas kecil berbentuk balon udara. Disediakan meja, kursi, pensil, spidol, dan alat perekat untuk menempelkan hasil karya di dinding. Jarang sekali, saya, istri, dan anak-anak bisa mewarnai bersama di satu meja, sambil tertawa, bercanda, dan saling mengomentari. Masing-masing dengan imajinasinya sendiri. Saya mewarnai dengan identitas Adji, Indonesia Jakarta, agar orang tahu bahwa ada orang Jakarta yang sampai di sana, ternyata sama dengan istri saya, Sari. Kintan dengan motif batik dan Amel dengan tema yang berbeda. Suasana sangat hangat.

Mencoba Alat Permainan

Sebelum saya pulang dari musim, kami singgah ke toko merchandise. Ada dua petugas yang menjaga dan menjual berbagai pernak-pernik balon udara, seperti gantungan kunci, tas, kaos, replika, hingga makanan ringan dan porselen. Ternyata, Kota Saga adalah penghasil porselen terbaik di dunia, selain terkenal dengan tim voli-nya.

Dari museum Saga, saya dapat mengambil hikmah bahwa pariwisata memang harus dikemas dengan tertata, menarik, dan profesional. Mungkin jika hanya sekadar naik balon udara, bisa dilakukan di Cappadocia, Turki, atau ada daerah di Jawa Tengah. Namun, di Saga terlihat bagaimana ekowisata mengajarkan segalanya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Leave a Reply

Trending

Discover more from Isnawa adji.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading