Tulisan kali ini akan sedikit menceritakan anak kedua saya, yang dipanggil Kintan. Dalam bahasa Jawa, Kintan merupakan bentuk pendek dari variasi kata Kintamani atau Intan, batu permata yang berharga, berkilau, kuat, dan indah. Nama ini membawa harapan agar sang anak menjadi sosok yang berharga dan dihormati. Ada juga yang mengartikan Kintan sebagai yang selalu “diberkati” dan memiliki kehidupan yang makmur.

Dalam bahasa Sanskerta atau India, Kintan disamakan dengan Kintana atau Chintan, yang berarti meditasi, pemikiran yang mendalam, bijaksana, tenang, cerdas, dan suka berpikir mendalam sebelum bertindak. Dalam bahasa Jepang, maknanya mirip dengan “keemasan”. Jika diamati, memang anak saya, Kintan, tidak terburu-buru, banyak diam meski sedang menganalisa, berpikir, dan cerdas (diterima di UGM, pertukaran pelajar ke Italia, dan mendapatkan beasiswa di Jepang).

Saya dan Kintan

Lahir dengan kelainan pada tulang tungkai kaki.

Hari yang bahagia, 4 Mei 2002, di sebuah rumah sakit swasta di bilangan Jakarta Selatan, Kintan dilahirkan bertepatan dengan hari lahir ayahku, H. Soetardi. Saya dan istri sudah membereskan biaya persalinan dan perawatan pada tanggal 6 Mei. Tiba-tiba, kami dipanggil oleh dokter ortopedi dan dijelaskan bahwa tulang tungkai kaki bayi tidak simetris, dalam istilah kedokteran disebut “Metatarsus Adductus”. Kelainan ini ditandai dengan bagian depan kaki bayi yang melengkung ke dalam (berbentuk pisang) sementara bagian tumitnya tetap normal. Kondisi ini biasanya terjadi karena posisi bayi yang meringkuk padat di dalam rahim selama kehamilan.

Meskipun terdapat teknik peregangan mandiri di mana orang tua dapat diajarkan untuk memijat dengan lembut saat mengganti popok selama satu tahun, dokter tersebut menyarankan agar kaki anak saya dibuatkan sepatu khusus berupa gips. Dokter berkata, “Kasihan, Pak, anaknya perempuan, kalau kakinya nanti tidak simetris.” Akhirnya, kami setuju, meskipun biayanya cukup besar untuk ukuran saya sebagai PNS staf kecamatan pada waktu itu.

Bayiku menjadi pusat perhatian semua orang, layaknya seorang astronot.

Kintan, anak kedua kami, tentunya sering kami ajak pergi ke pasar, ke rumah keluarga, makan, dan lain-lain. Di salah satu restoran cepat saji, anakku duduk di meja. Banyak sekali ibu-ibu dan anak-anak mereka menunjuk ke arah Kintan. Mungkin mereka berpikir bahwa dia adalah bayi astronot, karena kakinya menggunakan gips yang harus diganti setiap bulan.

Pada usia dini, mulai mengenal film kartun, anime, dan bahasa Jepang secara otodidak.

Ketiga putriku, saat masih kecil, sering bermain di rumah. Seperti layaknya anak perempuan, mereka bermain boneka, rumah Barbie, fashion, dan lain-lain, termasuk menonton film kartun. Kintan sangat antusias melihat kartun, anime, atau berita tentang Jepang. Sejak kecil, ia memiliki keinginan kuat untuk bisa pergi ke Jepang dan berkeliling dunia. Anak-anak di usia emas pasti cepat menangkap memori dan mengamati sesuatu yang menarik bagi mereka. Yang pasti, sejak ada komputer, anakku ini mulai belajar mandiri tentang bahasa Jepang, huruf kanji, dan lain-lain. Saat SMA, ia ingin masuk sekolah bahasa “Gakushudo.”

Mengikuti Program Antarbudaya AFS di Italia.

AFS, singkatan dari American Field Service, adalah organisasi internasional nirlaba berbasis sukarelawan yang menyelenggarakan program pertukaran pelajar antar negara. Dalam program ini, siswa SMA tinggal bersama keluarga angkat (host family) dan bersekolah di luar negeri selama satu tahun akademik. Di Indonesia, program ini dikelola oleh Yayasan Bina Antar Budaya. Anakku, Kintan, mendapat kesempatan berharga untuk mengikuti program AFS ke Italia, tepatnya di kota Fano.

Fano adalah kota pelabuhan yang indah dan bersejarah, terletak di Provinsi Pesaro e Urbino, wilayah Marche, Italia, yang berada di pesisir Laut Adriatik. Menurut Kintan, Fano adalah destinasi liburan musim panas terpopuler di Italia. Ada Spiaggia Lido (pantai pasir) yang terletak di sisi utara dengan pasirnya yang lembut dan airnya yang dangkal, serta Spiaggia Sassonia (pantai kerikil) di sebelah selatan dengan jalur pejalan kaki di sepanjang tepinya. Sangat indah, tetapi saya sendiri belum pernah ke sana, hahaha.

Informasi dari Kintan, ada karnaval dengan tradisi Getto, di mana penonton sepanjang jalan dilempari cokelat dan permen dari atas kereta pawai. Wuih, seru sekali. Kalau di Jakarta dilempari apa ya? Mungkin kaos, hahaha. Ada lagi kuliner khasnya yaitu Moretta Fanese, cocok untuk penggemar kopi. Kopi khas nelayan Fano ini memadukan espresso panas dengan lemon, gula, dan sedikit rum.

Dari Fakultas Sastra Jepang UGM ke program Monbukagakusho (MEXT), melanjutkan beasiswa di Saga University, Jepang.

Setelah lulus SMA saat pandemi Covid, Kintan sempat kuliah di UGM sebentar sebelum akhirnya mendapatkan beasiswa di Jepang.

Kintan sempat kami antar mencari kos di sekitar kampus UGM Yogyakarta. Dia sempat kuliah selama satu semester, kalau tidak salah, kemudian mencoba program Monbukagakusho di Jepang dan diterima.

Mombusho atau Monbukagakusho adalah nama resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi Jepang. Beasiswa ini diberikan kepada pelajar internasional, termasuk dari Indonesia, di mana pelajar mendapatkan uang saku bulanan, biaya kuliah, dan tiket pesawat pulang-pergi. Program yang ditawarkan antara lain: Research Student (untuk S2 dan S3), Undergraduate (Gakuhi) setara S1, College (Kosen) untuk D3 khusus teknik dan teknologi, serta Senshu, Specialized Training College semacam program vokasi atau keahlian, D2 untuk seni, desain, animasi, atau perhotelan. Nah, Kintan masuk di bidang desain. Kuliahnya di Osaka, Jepang. Karena Kintan dinilai berprestasi, ia disarankan mengikuti beasiswa khusus desain dan diterima di Saga University, Jepang. Alhamdulillah, Allah Maha Baik. Istriku sampai berkata, bayi perempuan yang memiliki kelainan tulang bisa mandiri ke Italia dan Jepang, Masya Allah. Kakinya bisa melangkah ke luar negeri.

Bertemu Jodoh di Kobe dan Osaka

Saat kami sekeluarga pergi ke Osaka untuk mengunjungi Kintan dan menghadiri wisuda di sana, kami berada di bulan Ramadan saat itu. Kami berkesempatan melaksanakan tarawih dan salat Idul Fitri di MIO, Masjid Istiqlal Osaka, bekas pabrik sepatu yang dibeli oleh warga dan masyarakat Indonesia untuk dijadikan masjid. Di sanalah saya berkenalan dengan seorang pemuda asal Pinrang, Sulawesi Selatan bernama Ihsan. Penampilannya cukup tinggi, bersih, dan lumayan tampan (karena saya juga tampan… Juragan sekoteng), yang sedang dekat dengan putri cantikku, Kintan. Saat itu saya berdoa kepada Allah SWT agar anakku diberikan jodoh yang saleh, berbakti, dan sayang kepada keluarga. Ternyata Ihsan sudah beberapa kali bekerja di perusahaan di Jepang. Sejak saat itu kami sering berbincang, makan, dan jalan-jalan selama di Jepang. Bahkan sering juga berkomunikasi melalui WhatsApp saat saya di Jakarta, berbincang dan berdiskusi.

Tunangan melalui Zoom, antara Jakarta-Pinrang-Osaka

6-6-2026

Akhirnya tiba saat yang dinantikan. Setelah mempersiapkan acara pernikahan selama satu tahun sebelumnya dengan persiapan yang luar biasa, anaknya berada di Jepang, sementara orang tuanya di Pinrang dan Jakarta. Dibutuhkan semangat, kesabaran, fokus, dan perhitungan yang matang hingga akhirnya dipilihlah lokasi akad nikah dan resepsi pernikahan di salah satu hotel di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. Kehadiran keluarga dari Pinrang dan Bone di Jakarta menambah semarak, keseruan, dan mempererat silaturahmi di antara keluarga besar. Undangan yang tiada henti selama 2,5 jam membuat saya berdiri di pelaminan, disertai musik dan hidangan yang menambah khidmat dan kebahagiaan pernikahan Kintan dan Ihsan.

Saat anakku Kintan meminta izin kepada ayahnya, saya tercekat, menahan tangis, sempat bergetar saat saya mengizinkan, termasuk saat berlangsungnya ijab kabul. Masih terngiang bayi kecilku, perjuangannya di Jepang, dan sekarang telah memasuki bahtera kehidupan. Selamat, sayangku Kintan, semoga ibadah terpanjang ini bisa menghantarkanmu, suami, dan anakmu hingga ke Surganya Allah SWT. Terima kasih kepada keluarga besar Soetardi Moeljodarsono, Samidi Karpo Lumakso, dan keluarga Irman Madjid dari Pinrang dan Bone. Kita doakan mereka menjadi keluarga Sakinah, Mawadah, Warahmah serta terima kasih atas doa restu handai taulan dan kerabat, khususnya untuk tamu dari Jepang.

Leave a Reply

Trending

Discover more from Isnawa adji.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading