Saya dilahirkan di Jakarta, 24 Mei 1972 tepatnya di RS Fatmawati Jakarta Selatan (Jaksel). Saat menjadi Wakil Walikota Jaksel, beberapa kali saya melintasi depan Rumah Sakit (RS) Fatmawati. Berkunjung ke RS ini seakan hati bergetar mengingat kembali kisah kelahiran saya kala itu.

Saat Ibunda saya tersayang (Almh.)Hj Sriwati masih ada, beliau kerap bercerita dan berkisah untuk menemani kami nak-anaknya yang saat itu masih kecil dan bersekolah, untuk bermain. Kami dibesarkan di rumah Tebet Timur, Jakarta Selatan, rumah yg terbilang kecil dimana 10 anak dibesarkan. Seharusnya 11 orang namun kembaran saya yang juga kakak saya (Almh) Istuning Maesaroh telah berpulang beberapa jam saat dilahirkan. Semoga Almh Istuning Maisaroh saat ini sudah menemani bapak dan ibu di alam Barzah dan Husnul Khotimah.

Ya, saya dilahirkan kembar dengan ‘Mbak Istuning Maisarah, saat itu usia kandungan baru 7 bulan. Semua karena keberkahan dan kuasa Allah SWT. Disaat harus melahirkan anak ke 8 (dan 9) dengan usia ibu saya yang tidak muda lagi, dalam ilmu kedokteran mungkin sudah masuk kategori risiko tinggi atau resti dan bisa mengancam keselamatan sang ibu.
Dari cerita almh, ibu dibawa ke kamar operasi RS Fatmawati saat itu pada tanggal 24 Mei 1972, dimana perlengkapan peralatan RS belum secanggih sekarang. Sudah pasti Bapak H2C atau Harap=Harap Cemas dengan kegalauan setingkat dewa, Subhanallah.
Sosok Mbok Berkebaya di Ruang Operasi Bersalin
Para Pembaca, saya meyakini bahwa ada hal-hal gaib, irrasional dan misteri yang terkadang muncul sebagai wujud Kebesaran Allah SWT. Ibu saya bertutur:
”Dji, waktu mau melahirkan kamu, ada kejadian yang ibu sendiri kaget dan tidak percaya,” katanya.
Pada saat ibunda memasuki kamar operasi persalinan di RS Fatmawati dan sepertinya akan dilakukan Operasi Caesar (tahun 1972 sudah ada Op. Caesar) ibu bercerita bahwa tim dokter tengah mempersiapkan perlengkapan bedah, sudah mengenakan APD (Alat Pelindung Diri), sedangkan ibu sudah terbaring sambal diam dan berdoa.
Tiba tiba datang seorang Mbok-mbok yang berperawakan kecil dan sedikit gemuk mengenakan kebaya. Sosok tersebut penuh senyum hangat menyapa Almh. ibu dengan Bahasa Jawa dan berkata kira-kira seperti ini:
“Nduk jangan khawatir, Insya allah nanti lahirnya normal gak usah di operasi,” katanya. Sementara ibu cuma mengangguk perlahan dan mengucapkan terima kasih.
Sosok itu tiba-tiba memindahkan semacam sobekan kain perca sambil kembali berkata:
“Nduk baca-baca Surat Al- Kautsar jangan putus ya,” ujarnya seraya pergi melewati pintu ruang operasi.
Dalam ceritanya, ibu membaca surat Al-Kautsar tersebut sambal sesekali memejamkan matanya. Allahu Akbar, tiba-tiba perut ibu mengalami kontraksi hebat dan atas Kuasa Allah SWT, saya dan kembaran saya bisa dilahirkan secara normal disaat menit-menit menjelang operasi bedah dilakukan.
Mbak Istuning kembali ke pangkuangan Sang Ilahi
Para pembaca yang budiman, sudah menjadi takdir dan qodarullah, beberapa jam kemudian kakak kembar saya, mbakyu saya yang sempat diberikan nama Istuning Maisaroh akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya beberapa jam setelah dilahirkan. Kami berdua memang dilahirkan secara prematur diusia 7 bulan dalam kandungan. Mbakyu Istuning Maisarah akhirnya dimakamkam di TPU Tanah Kusir, namun hingga kini kami semua tdk tahu posisi makamnya. Bapak pun sudah lupa dimana letak persisnya (Di postingan lain saya ceritakan soal cerita kepergian Bapak dan TPU Tanah Kusir ini).

Disisi lain, ibu dan bapak suka bercerita bahwa saya itu bayi mungil, panjangnya sama dengan Botol Osso (mungkin minuman botol zaman itu), dimasukan kedalam incubator dan semua tetangga handaitaulan yang datang ke RS melihat kondisi saya kala itu hampir 90% menguatkan ibu untuk bersabar, tabah dan tawakal bila sewaktu waktu, si bayi mungil itu mungkin tidak berumur panjang, sama dengan Mbakyu.






Leave a Reply