Kisah ini memang masih belum lama, tepatnya di September 2020. Alm. Ayahanda saya H. Soetardi Moeljodarsono bin Sutarsa Djajakrama berpulang di usia 85 tahun di RSUD Pasar Minggu saat saya menjabat Wakil Walikota Jakarta Selatan. Saat itu kasus Covid-19 varian delta mulai mengganas hampir disemua wilayah Jakarta Selatan mengalami peningkatan kasus. Tapi tidak, ayah saya meninggal dunia bukan karena Covid-19.

Masih segar dalam ingatan saya, dihari Minggu pagi saya dan istri tercinta Sari tiba-tiba mengubah rencana bepergian kami berdua, dan memilih untuk menengok bapak di kediamannya di Komp. Perindustrian Cimanggis, Depok. Saya dan istri berangkat dari rumah kami di Cengkareng, Jakarta Barat menuju Cimanggis, dan tiba hampir waktu dzuhur, sekitar pukul 12 siang.
Saat itu bapak dengan wajah yg sumringah, tertawa dengan model kaos oblong putih dan sarungnya menyambut saya, apalagi saat itu kita bawakan makanan kesukaan bapak berupa cream soup KFC. Dengan gaya khasnya seperti bertepuk tangan bapak memeluk, mencium sayasambal berkata:
“Djie repot-repot amat bawain makanan, kamu sama Sari datang aja bapak sudah seneng,” katanya dengan wajah sumringahnya.
Saya jawab “Aman pak, yang penting bapak sehat dan makan sup ini,” kami pun sama-sama tertawa.

Jujur dalam hati saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa, sepengetahuan saya, bapak beberapa hari kurang sehat ‘kok saat itu terlihat nampak sehat, banyak tertawa dan senyum-senyum terus.
Ciranjang
Para Pembaca, saat bapak masih sehat dan sebelum datangnya Pandemi Covid-19 melanda, beberapa kali saya dan kakak mengantarkan bapak menengok kampung halamannya di desa Cumenggala, Ciranjang, Kabuapten Cianjur, Jawa Barat. Dulu waktu kecil, kami sangat familiar berkunjungan ke rumah Ciranjang yang asri, hijau dan berkumpul dengan keluarga serta tetangga.
Bapak, disaat ziarah ke Ciranjang selalu berpesan:
“Dji nanti makam bapak disini saja diantara makam bapak dan ibu (maksudnya Eyang Soetarsa Djajakrama dan Ibu Kustini),” pesannya.
Mendengar itu beberapakali hati saya bergetar, walau kita semua akan menuju kesana. Saya cuma bisa menjawab, “Insya Allah pak.”
Kembali ke Cimanggis
Kembali ke cerita saat saya mengunjungi bapak di Cimanggis. Sesampainya di rumah Cimanggis, kebetulan istri saya mengantuk berat dan meminta ijin untuk tidur siang. Tinggallah saya dan bapak sambal makan creamsoup menonton televisi berdua. Saling bercerita, dan dalam sela-sela obrolannya itu tiba tiba bapak bilang:
“Dji, kamu tidur deh, sudah ngantuk tuh,” kata Bapak.
Saya jawab “Ya pak nanti saja,” kata saya menimpali
Selang setengah jam bapak kembali bilang “Dji tidur deh dikamar bapak.” Dalam hati saya saat itu bertanya-tanya “lho kok ke kamar bapak?”.
Kemudian ebberapa menit berselang, bapak kemabli bilang “Dji tuh kekamar bapak, tidur disana.” (Dalam hati, kenapa ‘ga disuruh tidur ke tempat istri saya tidur ya, dalam hati, jangan-jangan ini perintah..hehehe).
Akhirnya saya menuruti keinginan bapak, rebahan di tempat tidur dengan kain kelambunya yang khas. Belum sempet memejamkan mata, tiba tiba bapak masuk dan duduk disamping tempet tidurnya, beliau mengambiltas coklat kulit ukuran kecil sambal mengeluarkan foto sambil diperlihatkan kepada saya.
“Dji, lihat foto ini, ini foto Mbah Sanusi, dengan kakakmu Kabul dan Deho (Iskandar), mereka bertiga sedang ziarahi makam kembaranmu Istuning Maisaroh,” ujarnya.
Mbah Sanusi merupakan ayah angkat bapak yang dulu berprofesi sebagai masinis kereta api pada jaman Belanda)
Saya jawab, “iya pak.”
Terus bapak berkat “Ingat Dji, Tanah Kusir.”
Saya jawab “Iya Pak, Tanah Kusir.”
Terus bapak mengulang lagi “Dji, jangan Lupa Tanah Kusir,” tegasnya.
Kembali saya jawab “Iya inget pak, Tanah Kusir,” jawab saya menutup obrolan.
Akhirnya saya pun tertidur….
Jelang sore hari saya terbangun. Bersama istri sholat ashar untuk bersiap pulang ke rumah kami di Cengkareng, Jakbar. Sebelum pamit, seperti biasa saya menyelipkan uang untuk bapak, mungkin untuk mancing, beli roti atau lain-lain, sambal berkata”
“Pak, Adji dan Sari pulang ya pak, pamit semoga bapak sehat-sehat.” Beliaupun mengangguk tersenyum sambal mencium dan memeluk saya
Kalau ingat ini terkadang airmata mulai berlinang, ingat saat kecil suka dipeluk dicium bapak….
Bapak pun menjawab”
“Terima kasih Dji, semoga kamu dan keluarga sehat dan berkah. Dji…jangan lupa…Tanah Kusir,” pungkasnya.
Para pembaca, satu pekan setelahnya. saya mendapati kabar kalau bapak kecapean setelah berkeliling dengan kakak saya, bapakpun di rujuk ke RSUD Pasar Minggu disaat meningkatnya pasien-pasien Covid-19. Bapak memang tidak terkena Covid, namun perawatannya harus sesuai protokol kesehatan Covid, akhirnya bapak masuk ruang isolasi, sepi, sendiri, dosaat usianya 85 tahun.
Innalillahi wa Innaillaihi Rodji’un
Malam itu kami mendapat kabar dari dokter bahwa Bapak berpulang hampir pukul 00. Saya dan sitri pun langsung bertolak ke RSUD Pasar Minggu saat itu juga.
Kami pun mempersiapkan tempat peristirahatan bapak yang terakhir. Sesuai pesan saat masih hidup, beliau ingin sekali dimakamkan diantara makam bapak dan ibunya. Malam itu saya berpikir dimana banyak daerah yang menolak dilakukan pemakaman warga dari Jakarta yang terkena Covid atau disangka pasien Covid. Sekali lagi, memang bapak tidak terkena Covid, namun protokol pemakaman harus sesuai prosedur pandemi.
Ini yang dinamakan misteri dan firasat. Saat saya berrundingan dengan keluarga dini hari itu, saya jelaskan bahwa akan sanmgat kasihan sekali dengan alm. bapak jika sudah jauh-jauh dibawa ke Ciranjang nanti, ternyata ditolak oleh warga sana. Atas pertimbangan itu, akhirnya keluarga besar sepakat menyerahkan segala sesuatu keputusn kepada saya. Malam itu saya berkoordinasi dengan Pejabat Dinas Pertamanan, Pemakaman dan Hutan Kota DKI untuk menanyakan apakah ada lahan makam untuk bapak saya, yang bukan untuk makam Covid.
Dari jam 1 dini hari saya baru mendapat jawaban jam 04 pagi
“Assalamualaikum Pak Wakil, Alhamdulillah pak ini ada lahan pemakaman di Blok AA1 TPU Tanah Kusir, siap pak kami bantu,” ujar suara di ujung telepon.
Ya Allah mendengar Tanah Kusir saya langsung menangis, saya tiba tiba ingat 3 kali ucapan almarhum ayahanda:
”Dji, jangan lupaTanah Kusir…Jangan Lupa Tanah Kusir.”

Demikian pembaca , cerita Tanah Kusir. Semoga kembaran saya Istuning Maisaroh sudah bertemu bapak di Tanah Kusir. Cerita soal Almh. Mbak saya ini bisa dibaca melalui tautan berikut ini: Isnawa Adji terlahir Prematur dan Miliki Kembaran.





Leave a Reply