Dulu, ketika saya bertugas di Kecamatan hingga Pemerintah Kota, terdapat slogan seperti “Kota Ramah Anak” dan “Kota Ramah Disabilitas.” Pada waktu itu, saya tidak sepenuhnya memahami makna ini, ketika semuanya dalam keadaan sehat dan normal.


Saat saya mengunjungi kota-kota besar dunia seperti San Francisco, Kopenhagen, Helsinki, Malmo, Frankfurt, Guangzhou, Seoul, Singapura, Amsterdam, dan Stockholm, termasuk sembilan kali kunjungan ke Jepang di kota-kota seperti Tokyo, Osaka, Kyoto, Kumamoto, Kobe, Hiroshima, Gifu, dan Fukuoka, saya dapat merasakan betapa pentingnya kota yang ramah disabilitas dan ramah anak. Hal ini menjadi keharusan, termasuk di kota-kota dan prefektur di Jepang.

Berbeda dengan kondisi saya yang sehat sebelumnya, kini saya sedang dalam pemulihan fisik akibat radang panggul, yang mengharuskan saya menggunakan kursi roda untuk perjalanan jauh. Jakarta tercinta, dengan visi sebagai Kota Global, telah menggagas dan menerapkan konsep kota ramah disabilitas, namun belum seoptimal kota-kota besar lainnya seperti di berbagai kota di Jepang.

Sewa Kursi Roda

Karena kondisi beberapa hari di Saga memaksa saya untuk menggunakan kursi roda, kami sepakat menyewa secara online dengan memilih warna, jenis, dan berat dari kursi roda tersebut dengan berbagai pilihan waktu sewa. Dua hari berselang, datanglah petugas membawa kursi roda tersebut. Yang menarik, petugas mempersilakan kami untuk memeriksa kursi roda, mencoba duduk, menggerakkan, dan menyampaikan keluhan jika ada.

Layanan dan dukungan bagi penyandang disabilitasNaik Taksi, Kereta Shinkansen, dan Bus

Sebelum keberangkatan ke Jepang, ada kekhawatiran bahwa kondisi yang tidak optimal akan mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Saya perhatikan, misalnya di taksi, meskipun sopirnya rata-rata sudah tua, mereka tetap peduli dan membantu pergerakan penumpang yang sakit, dengan menyediakan pegangan dalam taksi. Yang juga menarik adalah saat kami naik kereta Shinkansen, petugas akan menanyakan kondisi kami dengan kursi roda, menanyakan tujuan, kereta apa yang akan digunakan, dan posisi gerbong mana yang sudah disiapkan khusus untuk jalur disabilitas. Petugas kereta api akan memasang papan antara peron dan gerbong serta membantu kami masuk ke gerbong dengan menempatkan posisi bagi penyandang disabilitas, orang lanjut usia, ibu hamil, dan yang menarik saat tiba di stasiun tujuan, sudah ada petugas yang siap membantu kami turun dari gerbong dengan memasang kembali papan dan mengarahkan kami harus ke mana dengan menggunakan lift khusus disabilitas. Saya perhatikan di setiap gerbong ada kursi prioritas “priority seat” bagi penyandang disabilitas, lansia, dan ibu hamil. Saat kereta cukup penuh, mereka tidak menduduki kursi prioritas tersebut meskipun kosong, sangat mengapresiasi.



Terminal bus, minimarket, hotel, dan restoran pun melakukan hal yang sama. Selain waktu yang presisi baik keberangkatan maupun kedatangan, bus di Jepang memasang logo disabilitas. Ketika saya akan masuk ke bus, bus berhenti dan bisa miring, sopir turun menanyakan titik pemberhentian kami, memasang papan pendukung untuk masuk bus, mengikat kursi roda, dan memastikan semuanya oke, dengan menempatkan saya di tempat khusus disabilitas. Adapun penumpang lainnya tidak mengeluh dan memahami kondisi penumpang disabilitas. Saat saya turun dari bus, sopir akan mengembalikan papan ke tempat semula. Tidak heran banyak saya jumpai kakek nenek berbelanja dan bepergian seorang diri tanpa khawatir karena dukungan tersebut.

Toilet 
Keberadaan toilet menjadi hal yang umum di berbagai lokasi. Saat saya duduk menemani anak dan istri berbelanja sayur dan makanan, saya memperhatikan ada pembagian empat jenis toilet: untuk laki-laki, perempuan, ibu menyusui atau ibu yang membawa anak/lansia, dan khusus disabilitas. 
Di Jepang, semua orang mematuhi aturan tersebut. Ada lansia yang masuk ke toilet khusus lansia, ada penyandang disabilitas yang masuk ke toilet khusus. Semua patuh terhadap hal tersebut.

Kondisi Jalan dan Fasilitas Pejalan Kaki bagi Disabilitas

Saat kami menuju suatu tempat, baik itu gedung, tempat makan, terminal, atau stasiun kereta dengan kursi roda, kenyamanan jalan dan trotoar menjadi impian bagi penyandang disabilitas. Saya merasakan bahwa ketika didorong dengan kursi roda, kontur aspal, perataan, dan tingkat kehalusan aspal dapat dikatakan hampir sempurna, tanpa perbedaan ketinggian, sampah, lubang, atau material seperti kayu, batu, dan kerikil. Ada juga yang sangat halus dan nyaman bagi penyandang disabilitas. Ini adalah penilaian saya tentang penataan kawasan yang mendukung bagi disabilitas. Selain itu, penanda warna kuning bagi tunanetra pun tersedia di mana-mana.

Leave a Reply

Trending

Discover more from Isnawa adji.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading