Bersama istri, saya diajak ke taman di daerah Fukuoka bertepatan dengan musim bunga sakura. Udara dingin yang menusuk ditambah hembusan angin turut menyemarakkan suasana piknik saat itu. Dahulu, ketika saya masih kecil, piknik identik dengan berjalan bersama keluarga, menggelar tikar di bawah pohon sambil membawa masakan sayur, telur, buah, sirup, dan mungkin biskuit untuk dinikmati bersama. Biasanya, kami tidak jauh-jauh dari Kebun Binatang Ragunan, Pantai Ancol, Monas, atau Taman Mini.

Berkumpul di Taman

Sesampainya di taman tersebut, pengalaman yang saya alami tidak jauh berbeda. Saya menyaksikan keluarga kecil duduk bersama di bawah pohon sakura; ada yang saling tertawa, bernyanyi, bercanda, makan bersama, bahkan ada yang tertidur. Mereka menikmati suasana angin sepoi-sepoi di bawah pohon sakura. Yang menarik, banyak di antara mereka memotret bunga sakura yang ada di tepi sungai yang bersih, ada pula yang berswafoto dengan latar belakang bunga sakura yang sedang mekar.



Saya perhatikan, mereka yang piknik saat berkumpul ada yang terdiri dari tiga generasi; ada bayi dan balita, ada keluarga muda, dan kakek nenek. Terlihat akrab, bahkan ada sepasang kekasih yang sedang saling bercanda dan tertawa, mengenakan kimono.

Satu hal yang membuat saya kagum adalah melihat beberapa keluarga mengenakan pakaian tradisional kimono, dan ada juga yang berkeliling sambil membawa binatang peliharaan mereka. Saya mencoba membandingkan, mungkin suasana piknik di Indonesia sudah sedikit memudar; jarang terlihat tiga generasi berkumpul. Kalaupun ada, biasanya hanya keluarga muda dengan anak-anak kecil mereka.

Kicauan burung dan taman dengan bunga beraneka jenis dan warna. 
Oh ya, selain bunga sakura, terdapat puluhan bunga tulip dan bunga berwarna lainnya yang menampilkan suasana semarak bagi mereka yang berpiknik. Kicauan burung kecil di antara bunga-bunga menambah suasana asri. Kami sempat merekam hal tersebut.

Bazaar, pertunjukan seni, area khusus merokok, dan larangan sepeda atau sepeda motor memasuki taman.

Seperti halnya di Jakarta, yang dikenal sebagai kota metropolitan dengan gedung-gedung pencakar langit dan hiruk-pikuk lalu lintas, serta di kota-kota lain yang memiliki daya tarik wisata masing-masing, taman di Fukuoka menawarkan hal menarik serupa dengan berbagai kegiatan seperti bazar yang menjual makanan dan minuman yang menggugah selera, panggung pertunjukan seni dari grup musik lokal yang menghidupkan suasana dengan melodi mereka, serta penampilan tari yang mempesona mata pengunjung. Di taman ini juga terdapat toilet umum yang terjaga kebersihannya, kawasan taman yang tertata dengan baik, serta beberapa lokasi yang disewakan bagi keluarga yang ingin piknik sambil menikmati keindahan alam di sekitarnya. Saya juga menemukan adanya area khusus yang dibatasi pagar besi untuk para perokok, mencerminkan budaya disiplin Jepang yang berbeda dengan kebiasaan kita yang mungkin lebih leluasa dalam hal merokok, berdagang, atau membuang sampah sembarangan. Hal menarik lainnya, pemerintah Jepang menerapkan aturan ketat dengan melarang masuknya sepeda atau sepeda motor ke dalam area taman untuk menjaga kedamaian suasana piknik yang tenang. Ada pula keindahan bunga sakura yang memberikan kehangatan dan menjadi ajang silaturahmi bagi warga Jepang untuk berkumpul bersama keluarga tercinta. Sekilas, suasana tersebut membuat saya berpikir bahwa kita mungkin dapat mengambil inspirasi dari mereka.



Saat kami kembali ke hotel, saya berdiskusi dengan istri saya mengenai apa yang bisa kami lakukan di Jakarta atau kota lainnya. Sebenarnya, tidaklah mustahil bagi kita untuk menata kembali kawasan taman, bantaran sungai, atau titik-titik tertentu menjadi lebih hijau, indah, dan terawat. Dengan usaha yang tepat, setiap kelurahan mungkin dapat memiliki kawasan unggulan seperti yang terlihat di Jepang, sehingga tersedia area terbuka yang dapat dinikmati warga untuk berkumpul, saling mengenal, dan menjadi sumber kebanggaan bersama. Semoga kita dapat berupaya lebih keras dalam menata kembali kawasan yang kumuh dan kurang tertata agar bisa menjadi tempat yang lebih baik bagi masyarakat.

Leave a Reply

Trending

Discover more from Isnawa adji.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading