Sejak diamanatkan menjadi Camat Tambora, Jakarta Barat (2011-2013), salah satu yang membuat tidak bisa tenang adalah tingginya angka kebakaran yang terjadi di wilayah tersebut. Untuk diketahui, wilayah ini meliputi Stasiun Angke, Duri, Pasar Mitra, Kota Tua, Kalibesar, Pasar Asemka, dan Gang Venus, sebuah gang yang dikenal selalu gelap, tidak tembus sinar matahari.

Gambaran tentang Gang Venus
Berdasarkan data BPBD Provinsi DKI Jakarta sepanjang lima tahun terakhir, sebanyak 3.141 kejadian bencana terjadi di wilyah Jakarta, di mana penyebab terbanyak kejadan diantaranya disebabkan oleh korsleting listrik/arus pendek, kemudian disuusl oleh penyebab lain seperti puntung rokok dan pembakaran sampah.

Infografis kejadian bencana selama 5 tahun terakhir di Jakarta
Arisan Kebakaran
Tambora adalah salah satu kecamatan di Kota Administrasi Jakarta Barat dengan 11 kelurahan, di antaranya Pekojan, Jembatan Besi, Angke, Jembatan Lima, Roamalaka, Duri Utara, dan lain-lain. Wilayahnya kecil dan padat, tetapi penduduknya saat ini sudah sekitar 220 ribuan, sebagian besar berdagang, konveksi, home industry, dan lain-lain. Saya masih ingat saat baru dilantik pagi sebagai camat, dipesankan oleh Pak Walikota agar mengantisipasi kebakaran di Tambora. Pagi dilantik jam 01 dini hari, saya sudah ke lokasi kebakaran di Tambora. Tahu nggak, guys? Ketika itu, dalam setahun saya mencatat, di 2012 ada 43 kali kebakaran, bergiliran di 11 kelurahan tersebut dengan istilah “Arisan Kebakaran,” istilah yang saya kurang sukai. Sampai saya hafal mana suara ambulans dan mana blangwird alias damkar.

Foto ketika menjadi Camat
Kebakaran saat Ulang Tahun
Ada yang menarik saat saya ulang tahun dan diberikan kejutan oleh staf dengan diberikan kue tart. Pas ditiup, eeeh… ada kebakaran di wilayah, ada staf yang komen, “Pak Camat sih tiup lilin, jadi kebakaran deh,” Astagfirullahaladzim…

Foto saat tinjauan ke lokasi pengungsian kebakaran
Kisah Mengurusi Kebakaran
Selama tugas di Tambora (2008-2011 sebagai wakil camat dan 2011 – 2013 sebagai Camat)
Sebagai pamong praja, melayani warga di Tambora, boleh dibilang tidak kenal waktu, kadang pulang jam 22 atau 23, besok jam 08 sudah di kantor lagi. Saya senang bersepeda keliling wilayah atau diboncengi motor Atap Pol PP atau OB ke wilayah karena macet dan butuh kecepatan.
Selama urusin kebakaran, banyak kisah yang saya langsung alami; ada warga pulang mudik lebaran, puluhan kontrakan terbakar berikut beberapa motornya di Tambora, ada yang terbakar uangnya padahal baru dapat pinjaman uang dari bank 50 juta. Pernah di malam Natal, kami membantu kakek yang stroke dari kebakaran di Kelurahan Duri Selatan. Ada juga saat kebakaran tidak ada korban, namun pemulung ada yang tewas tertimpa tembok sisa kebakaran karena mengais cari barang, dll. Di Kelurahan Krendang, ada yang menarik; di Kelurahan Jembatan Besi, ada kios ikan asin terbakar hebat, nah selama 2 hari iitulah di sekitar lokasi, bau ikan asin bakar.
Nah, yang capek itu, guys, pascanya kami bersama Polsek, Koramil, Dinas Kebersihan, dll, adakan kerja bakti, bersihkan puing sampah, penanganan pengungsi, distribusi bantuan warga, termasuk memikirkan kebutuhan kaum perempuan, anak-anak, dll, seperti kebutuhan alat mandi, perlengkapan sekolah, pengurusan surat berharga, dll.
Oh ya, pernah juga kami sekeluarga mau nonton sabtu sore ke Mall Citraland, pas di Fly Over Daan Mogot saya lihat kepulan asap dr mobil (sambil stir) saya hidupkan HT ternyata jaya 65 Angke. Akhirnya istri dan anak nonton bioskop dan saya ke lokasi kebakaran.. Atau pernah juga pas lebaran masih dengan baju koko lebaran hari pertama langsung ke wilayah karena ada kebakaran di Pekojan.
Ngadep Direktur PLN Disjaya Gambir minta di Sweeping
Di tahun 2011 sebagai Camat, saya nekat menemui Direktur Operasional PLN Disjaya Gambir. Saya ceritakan bahwa wilayah saya sering kebakaran. Saya juga tahu kalau PLN punya program Opal dan P2TL.
“Tetapi saya ingin saat itu diadakan sweeping listrik gabungan yang melibatkan PLN, Konsuil, AKLI, Damkar, STT PLN, Koramil, Polsek, Pol PP, LKM, FKDM, RW, RT, serta mengajak Kader PKK.”

Saat itu saya lapor kepada Pak Ahok ketika itu menjabat sebagai Wagub, saya bilang begini, “Pak, jangan sampai gara-gara ada yang ngontrak menggunakan listrik yang tidak benar, tidak SNI, konslet yang terbakar bisa 30 sampai 50 rumah (petakan),” dan beliau mendukung kegiatan tersebut termasuk Pak Joko Ramadhan dan Pak Burhanuddin, Walikota Jakarta Barat. Alhasil, semua jajaran PLN se-Jakarta kita apelkan dekat Mall Season City, semua melakukan sweeping listrik dengan memutus instalasi yang tidak sesuai. Ada yang menjumper, dll. Bahkan di Kalianyar, saya menemui konveksi dengan putaran meteran yang lambat, padahal di dalamnya banyak mesin. Luar biasa, tetapi kita mengajak PKK, mahasiswa STT PLN, dan karang taruna untuk membagikan brosur penggunaan instalasi listrik sesuai aturan kepada warga.
Jadi, setelah sweeping gabungan tersebut saya membuat jadwal sweeping listrik gabungan per kelurahan, kita gilir RT padat hunian kita jadwalkan bahkan saya apresiasi bagi RW yang mandiri melakukannya dan sosialisasi penanganan kebakaran.
Ya Alhamdulillah program tersebut bisa menekan kejadian kebakaran semoga ini bisa menginspirasi rekan pamong yang wilayahnya padat hunian dan rawan kebakaran, semoga bermanfaat, terima kasih PLN cs.









Leave a Reply