“Kondisi belum pulih, tetap ingin hadir meski dgn whellchair”
Sudah 1,5 tahun aku menderita sakit yang cukup langka, autoimun dengan jenis Pemfigus Vulgaris, pemulihan yang memakan waktu ternyata membawa dampak bagi terjepitnya saraf akibat tekanan salah satu luka di tubuh bagian belakang, sehingga untuk aktivitas saya menggunakan walker atau kursi roda. Rasa minder dan kurang percaya diri kadang menggelayuti pikiran, tetapi aku harus terus bergerak dan beraktivitas.

Reuni di CFD, Bandar Jakarta dan Hotel Aryaduta
Saat akan reuni, saya menginformasikan kondisi kesehatan saya saat ini, dengan banyak keterbatasan, dan lain-lain. Puluhan pesan WhatsApp mengalir deras di grup, memotivasi, mendukung, dan mendoakan agar saya segera pulih dan aktif kembali. Masya Allah, begitu besar perhatian mereka. Tujuannya sih, agar nanti tidak kaget dengan kursi roda saya ini, hehehehe.

Ngumpul atau reuni adalah ajang silaturahmi, melepas rindu, dan berbagi cerita tentang masa pendidikan dulu. Saya tidak ikut dalam acara jalan santai di CFD Minggu pagi dan makan siang di Bandar Jakarta, hanya hadir di Hotel Aryaduta. Luar biasa, yang hadir mencapai sekitar 240 orang, rekor terbanyak dari tujuh kali reuni yang diadakan di berbagai tempat seperti Makassar, Jatinangor, Malang, dan lainnya.

Berangkat Bersama caregiver, aku menghadiri reuni ini ditemani oleh istri tercinta, Sari, yang merawat dan mengurus kesehatanku dengan penuh kasih sayang, pendamping terbaik dalam hidupku. Menariknya, istriku bergabung dalam grup WhatsApp istri para pujangga, saling berbagi kabar, semangat, dan saling memotivasi di antara mereka, mendukung semangat di grup WhatsApp dan rekan Purna.

Salah Meja atau Rejeki Anak Sholeh?
Ini menarik, ketika aku masuk ke ballroom, didorong oleh istri, tiba-tiba diarahkan oleh panitia ke meja VVIP bersama Bang Agus Fatoni, pejabat Kemendagri, serta Bang Arifin dan Mpok Witri, orang nomor satu di Jakarta Pusat. Ada juga Bang Andi Norman dan istrinya, orang nomor satu di Wajo.
Ternyata aku dan istri salah duduk. Saat menoleh ke belakang, sebenarnya mencari kursi kosong, semua orang melambaikan tangan dan tersenyum, mengira aku sangat ramah, hahaha. Ya sudahlah, Allah sudah mengatur semuanya. Bang Arifin, terima kasih banyak sudah mendoakan yang terbaik untuk kesehatan saya.


Aku Menangis Dua Kali
Sungguh, aku menangis… Meneteskan air mata saat mendengar himne Abdi Praja Dharma Satya Nagara Bhakti, teringat masa pendidikan dulu, bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan. Yang kedua, aku menangis saat in memoriam, melihat sahabat-sahabat yang telah berpulang: I Putu Eka, MJ Verman, Oyok, Herigunara, Arie MK, Witontro, Didik CH, dan lainnya. Aku tercekat, bergumam lirih, “Bu, itu sahabat ayah…” Istriku menggenggam tanganku dengan erat sekali. Ya Allah, semoga sahabat-sahabatku Husnul Khotimah, amin.


Hiburan musik dan Tari, suatu kenangan
Terdapat berbagai hiburan yang mengisi suasana, mulai dari pertunjukan musik dan tari yang mengesankan. Salah satu lagu yang dinyanyikan adalah “Hey Langkah Panjang, Hari Ini Hari Luar Biasa”, sebuah anthem yang membawa semangat dan kebahagiaan bagi siapa saja yang mendengarnya. Selain itu, ada juga alunan syahdu dari lagu “Selamat Datang Pahlawan Muda, Lama Nian Kami Rindu Kan Kamu” yang seolah-olah menyambut hangat kedatangan para pahlawan muda yang telah lama dirindukan. Tidak lupa, Band Khatulistiwa yang diperkuat oleh Arwin Mslik, Dian, Fikri, dan Varian Bintoro membawakan lagu-lagu lawas mereka yang penuh nostalgia. Dengan semua penampilan tersebut, aku merasa cukup terhibur dan puas menikmati rangkaian acara yang penuh warna ini.

Menanyakan putriku dan sambutan hangat dari purna Sulsel.
Ohya, banyak yang menanyakan putri sulungku yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-29. Saat ini, ia tengah melanjutkan pendidikan S2 melalui beasiswa LPDP di Birmingham, UK. Sementara itu, anak nomor duaku saat ini sedang menempuh studi di Saga University, Jepang. Sedangkan si bungsu sedang dalam proses menyelesaikan skripsinya di Universitas Padjadjaran, sebuah tahap akhir yang cukup menantang dalam pendidikan sarjananya. Saat pertemuan dengan para sahabat dari Makassar dan sekitarnya, saya menyempatkan diri untuk bercerita. Saya dengan antusias memberitahu bahwa anak nomor dua saya akan menikah dengan seseorang dari Pinrang, yang langsung membuat suasana menjadi sangat riuh. Rekan-rekan saya seperti Aswin, Jabir, Andi Poci, Ilham, Imran Nur, dan lainnya tampak terkejut sekaligus gembira. Mereka pun berkata, “Kabari kita ya kalau ke Makassar, kami akan memberikan pelayanan penuh untuk Adji.” Mendengar dukungan dan perhatian tulus dari mereka, saya tak kuasa menahan air mata haru.






Leave a Reply