Ke Boyolali cicipi soto
Soto dimakan ditaburi emping
Jauh jauh ke Purwokerto
Sampe sana ditendang kambing
Setelah menempuh perjalanan 4 jam dengan kereta Batavia dari Gambir, kami tiba di Stasiun Purwokerto, nyaman dan enak juga, sambil baca majalah, dengerin musik ditemani istri dan anak tercinta. Nah, salah satu rencana saya adalah ketemu ustadz Rofili yang masih saudara, yang mengurus Yayasan Isjili di Cilacap.

Sesampai di stasiun kereta api Purwokerto, lapar langsung menyergap hahaha, akhirnya kita makan siang sekalian sholat dzuhur, rumah makan Jawa yang lumayan ngedrop dengan iringan musik dan lagu Jawa seperti Lali Janjine, Dalan Anyar, Jambu Alas, dll. Kami mencicipi ayam goreng kampung, sayur lodeh, mendoan, daun pakis haji, dll, maknyus. Resto Djago Jowo dengan rumah limasan joglo, menu andalannya ya ayam kampung, saya nyicipin kacang rebus, menu lainnya ya lengkap ada tahu tempe, bubur, kelapa muda, dll.
Lepas jelang sore, kami ke Isotel, salah satu hotel deretan kantor Satpol PP seberang GOR. Memang kalau ke daerah yang dicari kuliner khasnya, yaa hahaha.
Ngga lengkap klo ngga nyobain Soto Sokaraja Banyumas di jalan Bank, soto dengan irisan ayam kampung, tauge, kerupuk, bumbu kacang, kupat tahu, dan sedikit sambal khas… Kalau gak malu pingin nambah 2 mangkok.

Besoknya, saya janjian dengan ustadz Dwi Rofi H, pengurus Yayasan Isnawa Adji Peduli yang berlokasi di Binangun, Widara Payung, Cilacap, yaa sekitar 1 jam dari Purwokerto dengan mengendarai mobil Carey tua yang masih oke.

Alhamdulillah ada rasa haru, bahagia bisa bertemu anak santri, lansia, dan pengurus Isjili sambil kita makan bareng, Jumat berkah.

Saya menitipkan pesan agar anak dan lansia terus sholat, diajarkan mengaji, dan berbuat kebaikan. Setelah ngobrol, sholat Jumat saya diantar pulang ke Purwokerto lagi, seru juga tuh Carry tua, masih orisinil, gak power steering lagi. Semoga Pak Ustadz Rofi makin sayang sama istri, keluarga, dan Carry-nya yaaa, saya doain yogurt buatannya membawa rejeki dan makin laris. Nah malamnya kami ke resto Taman Langit, dengan Kak Pa Iwan, Bu Henny, dan disetirin Dek Fergi. Kalau menu malam itu yaa umum, salmon, sop iga.

Keesokan harinya saya silaturahim ke om Irawan famili keluarga Pasinoe di Karanglewas.
Sebelum sampai di rumah keluarga Om Irawan, kami mampir ke Toko Roti “Go” yang legendaris berdiri sejak 1893 (nggak capek berdiri terus, bos). Saya jadi ingat roti kue jadul, enak semua, kayaknya. Sebelum sampai di rumah keluarga Om Irawan, kami mampir ke Toko Roti “Go” yang legendaris berdiri sejak 1893 (nggak capek berdiri terus, bos). Saya jadi ingat roti kue jadul, enak semua, kayaknya.

Alhamdulillah juga bisa kangenan dengan om dan tante, keluarga ibu di Purwokerto.

Saya kalau keliling suatu kota daerah suka mengamati jalan, perkantoran, kuliner, dll ada soto Sokaraja, gethuk goreng, es durian, sate kamu (kambing muda), yang seru saya baca ada GilBas “wuih ngeri,” nggak tahunya singkfatan Gilingan Baso, hahaha, besok-besok ada Gilmen dong, apa tuh, Gilingan Mendoan, hahaha.
Perjalanan selanjutnya kami ke Menggala Ranch Farm, ada wisata melihat domba merino, sapi, burung, entoq, ayam berbagai negara seperti Amerika, Prancis, Italia, marmut, dll cukup menarik bahkan kita bisa memberikan makan secara langsung.


Sebelum balik ke hotel perjalanan siang itu kita mampir makan siang di nyamplungan, rumah makan ala kampung yg dikelola santri, ada ayam goreng, soto, ikan dll enak banged ya, apa karena sudah laper kali.


Ditendang Kambing
Ada juga cerita yang saya di tendang kambing hahaha

Demikian sekilas perjalanan kami, semoga menghibur sahabat semua ya.






Leave a Reply