

Viralnya film Pabrik Gula ikut mengusik memori saya saat bermain, mencuri tebu dari lori, menelusuri rumah dinas Belanda yang ditempati Mbah Pasinoe. Menurut Bude Tati, adik almarhum Ibu saya Hj. Sriwati yang tinggal di Jogjakarta, Mbah saya termasuk staf ahli sejajar dengan pegawai Belanda, Chemicher, pertama orang Indonesia.
Saat usia SD tahun 80-an, saya sering diajak liburan ke Jatibarang, Brebes. Aroma tebu, bunyi pluit lori, asap cerobong, dan ramai riuhnya petani tebu serta pekerja pabrik masih melekat di ingatan saya.
Menyalakan petasan caberawit, janwe, sampai petasan banting meramaikan rumah dinas bergaya Belanda, aku masih ingat ada perlengkapan salon dan cuci rambut di salah satu ruangan besar itu, apalagi malam kalau mau pipis.. hiyyy toilet di bagian belakang.. gelap minim penerangan lewat koridor panjang dan ada suara tokek… tokek… pipis pun dipercepat sampai celana basah hahaha
Sejarah Pabrik Gula
Pabrik Gula Jatibarang di Brebes, Jawa Tengah, adalah salah satu pabrik gula tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun 1842 oleh Perusahaan NV Mij tot Exploitatie der Suiker Onderneming, yang dimiliki oleh Otto Carel Holmbreg, seorang pengusaha asal Belanda.
Pabrik ini merupakan bagian dari program Cultuurstelsel yang dicanangkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk meningkatkan produksi gula di Jawa. Pabrik Gula Jatibarang juga merupakan salah satu dari tiga pabrik gula yang dibangun di Kabupaten Brebes, bersama dengan Pabrik Gula Banjaratma dan Pabrik Gula Ketanggungan Barat (Pabrik Gula Kersana).
Setelah kemerdekaan Indonesia, Pabrik Gula Jatibarang menjadi bagian dari PTPN IX (Persero). Namun, karena biaya operasional dan perawatan yang tinggi, serta berkurangnya lahan untuk penanaman tebu, pabrik ini akhirnya digabungkan dengan Pabrik Gula Banjaratma dan Pabrik Gula Ketanggungan Barat menjadi satu kesatuan.
Pabrik Gula Jatibarang melakukan giling tebu terakhirnya pada tahun 2017. Saat ini, pabrik ini telah diubah menjadi agrowisata yang menawarkan pengalaman wisata sejarah dan edukasi tentang proses produksi gula.
Beberapa orang pakde dan keluarga besar kami banyak berkecimpung di pabrik gula, ada yang di PG Pangkah, Gempolkerep, Gondangbaru, Tasikmadu, Colomadu, Madukismo, dan Mojo. Saat mbah berpulang, jadi buah bibir, viral bahwa dokter gula sudah meninggal.

Miris deh, dari 17 pabrik gula di Jawa Tengah, yang aktif hanya 5 yakni PG Trangkil, Pakis daerah Pati, PG Rendeng Kudus, PG Gending Manis Blora, dan PG Cepiring Kendal.
PG Jatibarang berhenti operasi di tahun 2017 karena kurangnya pasokan tebu dan biaya operasional yang mahal, pabrik gula ini dibangun tahun 1842 oleh perusahaan NV Mij tot Exploitatie der Suiker Onderneming, dengan Otto Carel Holmbreg berkebangsaan Belanda.
Mengunjungi kakek nenek di rumah Dinas khas kolonial Belanda dari PG Brebes adalah suatu kenangan indah tersendiri yang benar-benar berbeda bagi misalnya cucu yang tinggal di kota besar Jakarta. Sejak naik kereta api dari stasiun Jatinegara, terdapat suasana yang amat berbeda sepanjang jalan. Apalagi kakek adalah seorang pensiunan masinis sehingga mendapat perlakuan khusus dan istimewa. Juga bisa menikmati makanan khas yang berbeda-beda yang dijajakan pedagang di setiap stasiun pemberhentian. Selain suasananya yang berbeda.
Rumah Belanda yang putih megah dan tinggi cukup menakutkan, apalagi kalau harus pergi ke WC yang letaknya jauh di belakang dengan sistem toilet kolonial yang khas. Kalau malam gelap dan akan membangunkan soang-soang yang dipelihara di lorong dari rumah utama menuju WC tersebut sebelum melewati dapur yang cukup luas. Pengaruh kolonial dan Belanda juga telah memberikan keterampilan kakek untuk membuat roti yang kesedapan bau terigu yang baru dibakar dengan minyak kelapa benar-benar membuat air liur menetes.
Siang hari kadang bermain dengan lori tebu, menggigit tebu yang baru dipanen dan berlari-larian di sekitar pabrik dengan bau gula terbakar dari asap yang membumbung dari cerobong raksasa batu bata kokoh arsitektur khas Hindia Belanda.
Di luar itu, makanan khas daerah Jatibarang pun lekat di ingatan. Selain mbok-mbok yang datang dan bersimpuh memperlihatkan makanan yang ditawarkan, tidak dapat diabaikan kelezatan sate kambing muda, kupat blengong, glabed (dari nasi ketan), dan tentu saja telor asin yang pasti akan dibawa pulang ke Jakarta sebagai oleh-oleh.


Mengenang Masa Lalu
Tahun 2015 saya sempat berfoto di kawasan pabrik gula Jatibarang, memori bayar zakat dengan gula, bau gilingan tebu, pekerja bersepeda sambil tertawa, udara subuh yang manis mungkin bercampur dengan butiran gula membuat saya kangen akan suasana era 70 dan 80-an.
Beberapa orang pakde dan keluargabesar kami banyak berkecimpung di pabrik gula, ada yang di PG Pangkah, Gempol Kerep, Gondang Baru, Tasikmadu, Colomadu, Madukismo, dan Mojo. Saat mbah berpulang jadi buah bibir, viral bahwa dokter gula sudah meninggal.
Duuh nikmatnya ngegragot tebu dari lori di bawah pohon rindang, apalagi dikejar petugas pabrik (saya dikira anak kampung situ), padahal Adji adalah cucu penguasa pabrik gula. Melihat ketel, mesin-mesin tua, bau tebu dan gula, masa giling, pekerja, deretan truk. Terima kasih alm pakde Prayit, bude tersayang bude Nebeng, mba Dewi, Susi Nita, mas Adhi, serta semua keluarga besar Pasinoe dimanapun berada; semua membentuk karakter dan menempa kenangan diriku akan sejarah pabrik gula yang mungkin tidak terulang lagi.. Jadi kangen sama bpk dan ibu, Alfatihah.
Ngga mau kalah dengan film Viral Pabrik Gula, saya juga buat cerita, kisah Pabrik Gula Jatibarang, mulai sejarah, komentar cucu Chemiker Gula Jaman Belanda sampai ajak cucu Mba Pasinoe nonton film Pabrik Gula, “Jangan sekali-kali lupakan sejarah.”
Ada yang cerita lezatnya roti buatan mbah, nyuri tebu di lori, keliling lihat mesin, tu tungku, kantor, pekerja, dan perkebunan tebu sampai rasa takut ke toilet rumah dinas mbah bergaya Belanda dengan iringan suara tokek, udara, dan angin dingin serta lampu temaram.








Kisah Manten Tebu
Manten tebu adalah tradisi budaya yang dilakukan untuk mengawinkan dua batang tebu sebagai simbol permulaan musim panen tebu. Tradisi ini dilakukan oleh pabrik gula dan petani tebu.
Tujuan tradisi manten tebu:
- Mengawali musim panen tebu
- Memohon keselamatan dan keberkahan selama masa panen tebu
- Menyambut baik dimulainya musim giling dan produksi gula
- Menjaga kelestarian budaya
- Menghormati alam dan bumi atas karunia yang melimpah
- Menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan alam dan leluhur
Cara melakukan tradisi manten tebu:
- Memilih hari baik
- Memilih dan membersihkan calon pengantin tebu
- Memberi pakaian, riasan, dan nama kepada calon pengantin tebu
- Melakukan prosesi temu manten
- Mengarak tebu di sekitar kompleks pabrik gula
- Meletakkan pasangan tebu dalam mesin penggilingan tebu
Tradisi manten tebu dilakukan di berbagai daerah, seperti Tegal, Tulungagung, Blitar, dan Kudus. Tradisi ini juga diangkat dalam film.
Menonton film judul pabrik gula hanya sekedar mengenang masa kecil hidup di seputaran kebon tebu yang luas dan menyeramkan di waktu malam. Film pabrik gula menceritakan kejadian nyata seperti manten tebu, sajen kepala sapi, dll. Hal ini tidak dilakukan karyawan mogok kerja, sifatnya bau mistis tapi tidak bisa ditinggalkan. Nanggap wayang kulit harus ada, sedang jaman sudah maju tapi masih percaya hal begitu.

Ajak nonton keluarga besar nonton film Pabrik Gula di Flix Cinema Astha Jaksel
Ngga mau kalah dengan film Viral Pabrik Gula, saya juga buat cerita, kisah Pabrik Gula Jatibarang, mulai sejarah, komentar cucu Chemiker Gula Jaman Belanda sampai ajak cucu Mbah Pasinoe nonton film Pabrik Gula, “Jangan sekali-kali lupakan sejarah”
Demikian sekelumit ulasan sejarah cucu Mbah Pasinoe tentang pabrik gula, walau film Pabrik Gula di lokasi PG Gondang Winangun Klaten, namun memori kami masih segar dengan kondisi yang sama di PG Djatibarang.
Terima kasih banyak, istriku, anakku Nanda, Kintan, dan Amel yang telah banyak mendukung ayah untuk tulisan ringan.
Terima kasih om tante, mas mba, pakde bude yang sudah ikut mewarnai tulisan sejarah kecil kita, sampai jumpa dalam reunian ke Pasinoe di Jatibarang Brebes yaa.








Leave a Reply