Saat melintas di Jl. Tebet Barat Raya depan SMA 26, pas nengok ke kanan beberapa waktu lalu saya tersentak melihat nama MALAR Caffe dengan bangunan minimalis sedikit jadul namun berinterior menarik, saya pun tersenyum, 45 tahun lalu, kami sudah punya Malar sendiri.

Awal kisah Genk Malar, anak Jaksel

Alkisah, di era 1988 ada 5 cowok cungkring (maklum, belum kebagian Makan Bergizi Gratis-Bg) masih sekolah di SMP Negeri 73, bermula dari sesama anak PMR (Palang Merah Remaja) bukan grup dangdut PMR, Pengantar Minum Racun yee, teroorejing terojing terojing, terus kita berlima suka ngaji sama ustadz Dhori dari Setiabudi Karbela (karet belakang) di rumah Rudi. Oh ya, MALAR itu nama kami berlima.

  • Maman, alm, makamnya di Komp. Polri Pengadegan, kalau saya ziarah selalu saya mampir ke makamnya. Alm pernah jadi kernet S60, loper koran, nginap tinggal di rumah dinas almarhumah ibu saya yang guru SD Kebonbaru.
  • Achmad Hafiz (Apit atau Apiz) anak pedagang kelontong gak jauh dari SMA 37 Kebon Baru, saat ini ASN Kementerian Agama
  • Lindo alias Sudarlindo Warman Esya. Anak alm H.Syamsuar Guru SMA 37 tinggal di Kebonbaru
  • Adji (Isnawa Adji) anak guru dan ASN perindustrian, anak no 8dr 10 bersaudara tinggal di Krambat, Tebet Timur (klo orang jadul tahu Krambat, deket Toko Roti Larisia)
  • Rudi, alias Achmad Fachruddin, beliau punya adik namanya Fahmu, pernah jadi walikota Sukabumi. Almarhum ayahnya pegawai bank BDN, kalau tidak salah. Saya ingat nonton RCTI pertama di rumahnya, betawi banget, agamis.
    Genk Malar namanya masih harum sampai sekarang, ada yang sebut kita Densus 88 karena lulusan SMP 73 tahun 1988.

ARTI PERSAHABATAN

MALAR, ini sangat kompak, bersahaja, sepedaan terus, dengan latar belakang berbeda, tidak memandang status sosial ekonomi, kadang numpang tidur, makan di rumah Rudi (seringnya di sini, anak pegawai bank, makanan enak dan bergizi, rumah bersih, gede hahaha), paling kompak kita ke sekolah naik sepeda, Maman naik di jalu sepeda saya sambil nyanyi, tertawa bercanda, Apiz cekikan, Rudy dan Lindo ngobrol.. Indahnya masa itu.

Beli Kaos Diskon di Ramayana Blok M

MALAR yang nggak punya banyak uang jajan, kami berempat (Maman berhalangan) sepakat beli kaos yang sama sebagai bukti geng yang kompak, seingat saya itu kaos diskon ditaruh di ranjang depan pintu Ramayana, kita beli.. Sampai sekarang nggak ngerti kenapa gambarnya anjing yaa hahahaha
Rasanya sudah hebat, bahagia bisa kompak.

Saya terobsesi dengan penyanyi Spandau Ballet. Guys, kalau lihat rambut saya pas SMP, saya dipanggil teman “polem” poni Lempar hahaha; saya meniru penyanyi Spandau Ballet atau arahan-arahan George Michael lah hahahaa.

HOBY SEPEDA, HIKING DAN CAMPING

Urusan sepeda paling senang keliling Tebet bahkan sampai Kebon Raya Bogor (dikejar banci pula), sambil sepeda kita sambangi teman sekolah yang anak orang kaya (matre ga yaa), cakep, kue, dan sirop tersedia dan kita mampir belagak kelompok belajar (padahal perbaikan gizi guys, untung ngga stunting hahaha)
Yang lucu pas Valentine-an, kita pada buat kartu, bagiin teman cewek tapi ngga berani ngasih, caranya dilempar sambil bersepeda (diajarin alm. Maman yang loper koran) alhamdulillah kartu yang kita buat 2 hari pakai spidol, cat air 50% nyangsrang di pohon, genteng, dan jatuh ke saluran air alias got hahaha

HIKING AND CAMPING
Entah gimana saat itu kita berlima nekat aja HIKING, camping ke Jogjogan, Bogor, Sukabumi, naik kereta nggak bayar, numpang truk, kehujanan, kelaparan, dll. Kita enjoy menikmati sambil bawa radio transistor, 2 band AM, FM, sahdunya di dalam tenda pas malam hujan deras, sambil makan mie instan mentah dan kacang kulit. Yang menarik, si Maman dan Lindo paginya menyelinap, ambil sarapan buat kita saat ada latihan Menwa di bawah tenda kita. Gila ya anak SMP nyamar jadi menwa, (alhamdulillah saya jadi Menwa STPDN juga, Widya Castrena Dharma Sidha).

Sepedaan abis sholat Subuh saat Ramadhan

Saya itu seneng film perang, majalah militer, perlengkapan tempur matra darat, laut, dan udara. Sampai-sampai anak yang kuliah di Jepang belikan saya replika pesawat tempur dan helikopter Apache AH-64
Saya dengan keluarga sederhana saat kecil paling senang dengan miniatur tentara sekutu atau Nazi Jerman, tentara SS, atau regular infantry, jeep, truk, dll. Naah, pas sepedaan di Tebet Barat (rumah Gedong), saya turun dari sepeda dan saya mengais sampahnya, ya Allah, saya dapat rejeki 1 plastik mainan tentara Nazi Jerman. Warna hijau dan hitam.. Betapa senang bahagianya saat itu.

MALAR, Persahabatan abadi, saat ini usia kita sudah di atas 52 tahun. Saat menjabat sebagai wakil walikota Jaksel, saya bertemu Hafiz di salah satu sekolah. Bahagia sekali, bertemu Lindo di pengajian alumni ’73 di Kebon Baru dengan calon istrinya yang baru. Alhamdulillah, dan saya bertemu Rudi saat takziah ke Depok saat ayahanda H. Yusuf Murtaba berpulang ke pangkuan Ilahi Robbi. Terima kasih ya Allah, Engkau pernah menorehkan kisah baik saat kami masih muda, taat kepada orang tua, belajar agama, mengenal mencintai lingkungan, kebersamaan, persahabatan anak Tebet, anak Jaksel.

Itulah kisah Malar Densus 88 ogah neror, mungkin sahabat juga punya persahabatan seperti kami. Nostalgia dan kenangan tak terlupakan
Durikosambi, Ramadhan hari ke-10

3 responses to “MALAR, Genk jadul Anak Jaksel-Tebet Era 80-an”

  1. Keren pak Is … Masa lalu pasti sangat berbekas

  2. mantaappp bang….
    hari ank, 14. kemen PKP

  3. Wuihh satu alumni nih smp 73, disalah satu foto sepertinya ada pak guru pak Chaniago bukan? Thanks for sharing fotonya terutama pas di tangga sekolahan smp 73 , kangen juga ya cuma liat tangga sekolah di foto 😁 , . .. Salam sehat selalu dari angkatan 90

Leave a Reply

Trending

Discover more from Isnawa adji.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading