Jadi protokol Kemendagri, gak ke Ayahnya, eh yang nerusin anaknya”

Ada cerita yang saya alami selepas lulus IIP, Institut Ilmu Pemerintahan Depdagri (angkatan 28 tahun 1999) dan menikah di Maret di tahun yang sama serta dikaruniai putri cantik pada Februari 2000 (bayi milenial) yang kami namakan Nanda Miranda Safira, yang saat itu menggabungkan kekaguman antara kecerdasan dan ketegasan mantan Deputi Gubernur BI, Miranda Gultom, dan kecantikan artis Bella Safira. Hehehe, ya kalau Nanda ya maksudnya ananda. Alhamdulillah, Allah berikan kecerdasan, ketegasan, dan kecantikan untuk putriku yang saat ini ASN Setjen Kemendagri, purna IPDN, dan Insya Allah meneruskan S2 Program LPDP di salah satu universitas di Inggris. Doakan ya Bapak/Ibu biar lancar.

Foto Miranda Gultom dan Bella Saphira (Sumber: Google)

Kembali ke judul artikel di atas, selepas lulus IIP dan tinggal di kontrakan Durentiga, saya ditempatkan di Bagian Tata Pemerintahan Setkodya Jakarta Barat sejak tahun 2000. Dengan Kabag Bapak H. Mardani yang juga senior APDN IIP dan kasubag Bapak H Rustam Effendi, mantan Walikota Jakarta Utara dan sekarang menjabat Ketua PMI DKI Jakarta, alhamdulillah istri beliau saat ini menjadi anggota DPRD DKI Fraksi PKS, Ibu Inad Luciawati.

Saat menjadi staf Bagian Tata Pemerintahan, saya banyak belajar seperti mengonsep surat, naskah dinas, komputer, menyiapkan bahan paparan, laporan, dll. Tentu saja, bimbingan dan arahan Pak Kabag dan Kasubag, bahkan sampai lembur, begadang dengan Bappeko sampai subuh dan tidur di meja rapat, hehehe. Masih ingat dengan tempelan kertas di ruang lembur kita “Pantang Pulang sebelum Ayam Berkokok”, tentunya dengan dukungan mie instan jam 24 dan nasi bungkus isi sayap dan telur bulat sedikit kuah dan sambal.

Karena sering lembur di kantor walikota Jakarta Barat kadang nginep kadang numpang office boy jam 01, 02 saya harus berbagi tempat duduk dengan mikrolet sekitar Palmerah dengan bakul sayur pedagang, maklum saya gak punya motor apalagi mobil guys, semua saya jalani dengan ikhlas sabar untuk membantu tugas Pemkot Jakbar, jaman itu gak ada gadget, sosmed, HP masih jarang ya.

Kadang malam lembur paling jam 01 sampai rumah, nyambung-nyambung bus.. Sampai rumah sudah dihadiahi popok bayi kotor dan dinihari itu saya cuci dengan badan capek, tapi yang lebih lelah ya istri yang sudah urusi si bayi mungil cantik.

Tiba-tiba di awal 2002, saya dipanggil Bp. Kartiko tim protokol saat Mendagri Bp. Harry Sabarno, ke Kemendagri untuk wawancara dan sempat diukur untuk seragam dan baju safari, kali yaa, untuk dijadikan salah satu ajudan. Saya tidak tahu apakah menteri, Sekjen, atau dirjen, yang pasti yaa, tim protokol.

Karena memang saat itu syarat yang dicari memenuhi sama saya, alumni STPDN, IIP, dan berdomisili di Jakarta. Perasaan senang, bahagia, dan bangga langsung saya rasakan, maklum kan saya bukan dari keluarga pemda apalagi Depdagri. Pak Kartiko sampaikan bahwa surat permintaan menarik saya ke Depdagri sedang diproses.

Mantan Mendagri, Harry Sabarno (Sumber: Google)

Dua hari kemudian setelah lapor BP Kabag, saya menghadap Pak Walikota Jakbar, Alm. H. Sarimun Hadisaputra yang sudah dekat dengan saya karena sering dipanggil mengoreksi bahan paparan dan laporan pagi, siang, malam, dinihari, dan jelang subuh, hahahaha jadi ya dikenal.

Saya: “Pak Wali, izin lapor pak”

Pak Wali: “Ada apa Ji?”

Saya: “Gini pak, saya dipanggil Setjen Depdagri, konon katanya saya mau diminta jadi protokol unsur pimpinan Kemendagri mungkin minggu depan setelah surat permohonannya jadi”

Pak Wali: “Wah selamat dek Adji, kata Pak Sarimun.

Saat itu saya sarjana S1 pemerintahan pangkat mau naik lll/b. Yang mengagetkan, Pak Wali pencet bel, panggil ajudan untuk memanggil Kabag Kepegawaian, seingat saya Almarhum H. Samit Wirya. Bertiga kami duduk, tiba-tiba Pak Wali buka map hasil Baperjakat. Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan sambil membacakan nama saya dan rencana posisi Kasubag di Bagian Tata Pemerintahan yang akan saya tempati. Allahu Akbar. Masya Allah

Pak Wali: “Tinggal pilih, mau Kasubbag atau Protokol?”

Saya hanya berpikir 1 menit: “Ya Kasubbag Pak”

Pak Wali: Kamu Pintar, kalau Kasubbag kamu jadi pejabat struktural, kalau Protokol kamu masih staf, walau kamu bisa jalan-jalan ke daerah se-Indonesia.

Sejarah Berulang, 20 Tahun Kemudian….

Alhamdulillah saya menjabat 6,5 tahun di 2 jabatan Kasubbag dan terus meniti karir jadi wakil camat, camat, asisten, wakadis kebersihan, kadis keberhasilan, kadis LH, wakil walikota, dan Kepala Pelaksana BPBD Jakarta.

Kok ya si bayi mungil Nanda, yang popoknya dicuci, sering ditinggal lembur, selepas lulus IPDN ditarik Kemendagri dan di tugaskan jadi protokol khususnya Bu Sekjen, Bu Suhadjar Diantoro dan sekarang membantu protokol Sekjen. Apakah kebetulan? Atau sejarah itu berulang? Yang pasti semua sudah menjadi ketetapan Allah SWT.

Leave a Reply

Trending

Discover more from Isnawa adji.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading