Ketika masih menjadi staf di Pemkot, saya punya pengalaman lucu dan seru. Namanya juga Staf di Pemkot, suka kebagian “mewakili dan laksanakan disposisi pimpinan.”
Inget banget, ada Seminar Internasional di Hotel Borobudur, kerja sama Universitas Ukrida, Jakarta Barat dengan Universitas Plowshare Amerika Serikat bertajuk “Learning Experience from South Africa” karena di tahun 1999 saat itu semangat otonomi daerah sedang booming sehingga bila tidak di-manage dengan baik bisa menjurus kepada disintegrasi bangsa (cie..cie..kaya pengamat Otda). Afrika Selatan memiliki kemiripan dengan Indonesia yang beragam suku, agama, golongan dll.
Nah ini nih serunya, saya kan masih staf ya, gak punya motor (apalagi mobil) alhasil undangan seminar internasional itu “disposisi” banget dari Pak Walikota ke Wakil Walikota, ke Sekko, ke Aspem, ke Kabag Tapem, ke Kasubag, dan ke saya, staf. (Habis dong gak bisa disposisi lagi hahaha).
Alhamdulillah saat itu dikasih ongkos Rp. 50.000. Naik lah saya Patas AC dari kontrakan di Kalibata jurusan Pasar Minggu – Lap. Banteng, atasannya jas abu-abu, dalemannya kemeja lengan panjang putih.

Sesampainya di Hotel Borobudur, saya bawa tuh Undangan “walikota” ke meja pendaftaran, sangat ramai dengan orang Indonesia dan orang asing. Pada saat mendaftar, nah ini yang parah, dalam hati saya lho kok orang ada yang bayar cash (jaman itu) satu juta. Dalam hati, “waduuuh kacau, ini gimana, mana cuma diongkos RP. 50.000,” hahahaha.
Akhirnya belaga mundur saya batal ah ikut. Pas baru meninggalkan meja registrasi, saya di panggil panitia di tanya “Mas, mas undangan dari mana?” Saya jawablah dari Walikota. Terus mereka lihat undangannya, “Wah mas undangan VIP nih, mejanya disana, gak ada biaya mas,” kata petugasnya.
Alhamdulillah deh, hahaha.
Saya langsung pindah meja dan registrasi. Selesai daftar, saya langsung diantar panitia ke meja. Kagetnya, di depan saya itu Pak Gubernur Sutiyoso, kiri dan kanannya Pak Rektor, belakang saya peserta KSA dan KRA Lemhanas (Kalau saya, paling lem kertas hahaha).
Nah ada yang lucu, pas antri makan siang (prasmanan), saya ikuti antrian. Makan siangnya mewah, sedangkan saya sebagai staf biasa makan siang sama pecel lele. tempe, ikan kembung (kadang perut kita yang kembung wkwk). Nah kali ini makan siangnya sama daging, sop, ayam goreng, ya itung-itung perbaikan gizilah ya buat saya.
Pas antri, saya didatangi panitia, “Pak maaf, bapak tamu VIP gak di sini (antrinya) tapi di sana,” katanya. Sedangkan yang antri di depan dan belakang saya ken Perwira Tinggi peserta Lemhanas. Saya jawab aja “Gak apa-apa, saya di sini aja.” Eh petugasnya bilang lagi “Maaf Pak Walikota, bapak di sana (tempatnya),” kata petugas. Gubrak gak tuh, dipanggil Walikota. Orang-orang yang antri di depan dan belakang saya pada kaget mungkin karena mikir “Apa iya, walikota? Jangan-jangan wali kelas.” hahahah 😄
Pindah lah saya ke ruang VIP, alhamdulillah, round table, masih sepi, enak nih gerilya karena makannya lebih enak nih, ada udang, steak, salad, dan masih banyak lagi.
Perlahan saya lihat ada tokoh nasional, ada Akbar Tanjung, Amien Rais, dan beberapa menetri yang selama ini cuma bisa saya llihat di TV aja.
Akhirnya ada meja bundar masih kosong, saya duduk di situ, karena saya mikir kayanya gak mungkin saya duduk sama tokoh nasional.
Pas lagi enak-enaknya makan, tahu ngga? itu meja saya adalah meja makan delegasi Menteri Afrika Selatan, Subhanallah ampuuun… mana itu yang tadi jadi pembicara lagi!
Inget banget dia ajak salaman sambil bilang “Hello Sir, nice meet you, i’m Mobonga (Kalau gak salah), Minister of Defence, how about you Sir?” tanya dia sambil senyum kecut,
Sambil deg-degan saya bilang aja “Nice meet you Sir, i’m Isnawa Adji, vice mayor West Jakarta Municipal”. Sambil pelan-pelan geser, hahaha
Setelah kenyang, saya solat dzuhur, setelahs eminar seharian itu dapat sertifikatnya.
Sorenya, saya kembali bergelayutan di Patas AC, goyang kanan-kiri menembus kemacetan Jakarta sambil senyum dan ngelamun.
“Hari ini seperti di Sinetron, berkumpul dengan elit pejabat negara, eeh sekarang balik lagi ke kontrakan Kalibata.”
Nah ini foto-foto pemanis aja sih, karena dulu belum zaman foto-foto dan gaka da dokumentasinya hahaha







Leave a Reply